FILTER DAN PLASTIK DARI BULU AYAM
Secara tradisional bulu ayam digunakan sebagai bahan kerajinaan, peralatan rumah tangga dan bahkan bantal yang bernilai komersial rendah. Kebutuhannya tetap terbatas sementara volume limbah terus membengkak selaras dengan pertumbuhan industri peternakan nasional maupun global. Bantal dari bulu ayam sulit berkembang karena kalah mutu dari bantal bulu halus angsa.
Sementara itu volume limbah bulu ayam global terus membengkak selaras dengan pertumbuhan pesat industri peternakan ayam dunia. Keadaan ini telah menggugah para ilmuwan mencari cara agar lebih banyak lagi bulu ayam yang bisa dijadikan produk komersial.
Di Amerika Serikat, ilmuwan Badan Riset Pertanian (ARS) Walter F. Schmidt tahun 1993 menemukan bahwa bulu ayam secara sendiri ataupun dicampur dengan pulp kayu bisa diolah menjadi kertas. Temuan ini berkembang ke penggunaan kertas dari bulu sebagai kertas penyaring (filter), alat penyaring air dan udara, penyerap (absorbent), dan kertas dekorasi.
Mutu dan performa filter kertas dari bulu ayam sangat baik, melebihi kertas filter yang kebanyakan terbuat dari pulp kayu. Ini karena serat-seratnya super halus dengan lebar sekitar 5 mikron dan bentuknya seragam. Sedangkan lebar serat kertas filter pulp kayu berkisar 10-20 mikron. Pori saringan lebih kecil sehingga lebih banyak partikel-partikel mini, spora, debu, bahan-bahan allergen yang terperangkap di saringan. Karakteristik tersebut membuka peluang kertas dari bulu ayam digunakan sebagai filter pada vacuum cleaner.
Schmidt dan kawan-kawan lalu mengembangkan teknik pengolahan bulu ayam menjadi kertas pada skala laboratorium yang kemudian dipatenkan pada tahun 1998. Pada tahun 1999 telah berdiri pabrik percontohan pertama pengolahan bulu ayam menjadi kertas.
Tidak berhenti di situ, Schmidt dkk terus melangkah maju. Pada tahun 2000 mereka memperagakan bahwa pencampuran serat bulu ayam pada plastik yang digunakan pada pembuatan suku cadang mobil seperti dashboard memberi beberapa manfaat. Yakni bersifat memperkuat alat bersangkutan, meredam atau menyerap kebisingan dan membuat bobot alat menjadi lebih ringan.
Selanjutnya, rekan kerja Schmidt di ARS, Justin Barone pada tahun 2002 menemukan bahwa plastik yang dibuat dari bulu ayam bisa dicetak dan sifatnya sangat mirip dengan jenis plastik lain seperti polyethylene dan polypropylene. Plastik dari bulu ayam itu bisa digunakan untuk pembuatan barang-barang kemasan dan lainnya sebagaimana penggunaan jenis plastik lainnya. Istimewanya, selain tingkat kekuatan tinggi, plastik dari bulu ayam juga bisa busuk secara biologi (biodegradable). Proses pembuatan komposit dan film dari keratin bulu sudah dipatenkan ARS tahun 2006.
Tim kerja Schmidt bersama Lembaga Riset Hortikultura (HRI) kini sedang mengembangkan plastik dari bulu yang digunakan untuk pembuatan pot-pot tanaman yang bisa membusuk secara biologis dalam waktu 1-5 tahun. Pembusukan tersebut akan memberi tambahan nitrogen pula pada tanah.
Direktur Riset HRI, Marc Teffeau mengatakan mereka mengembangkan resin berbasis keratin yang bisa membusuk untuk digunakan oleh industri manufaktur barang-barang wadah dan kemasan sebagai alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan terhadap produk serupa dari plastik berbasis minyak bumi.


