ARANG DAN ARANG AKTIF DARI BAMBU
Produksi kayu yang terbatas dan harga yang meningkat telah menjadi pemicu upaya mencari bahan altenatif yang murah dan mudah bagi pembuatan berbagai barang kegunaan dari kayu. Tetapi masyarakat kita beruntung dengan kekayaan negeri ini akan sumberdaya tanaman bambu yang bisa dijadikan bahan pengganti.
Krisdianto dkk yang menguraikan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Hasil Hutan dan Pusat Penelitian Kehutanan, Bogor mengutarakan di Indonesia tumbuh sekitar 60 jenis bambu dan telah menjadi tanaman serba guna bagi masyarakat pedesaan. Penggunaannya juga terus meluas dan berkembang memanfaatkan teknologi modern seperti untuk pembuatan papan semen, bambu lapis, pulp, serta arang dan arang aktif. Uraian tentang arang dan arang aktif dari bambu banyak merujuk pada hasil-hasil penelitian oleh Nurhayati.
Terkait arang dan arang aktif dari bambu, diperoleh kesimpulan tentang cukup banyaknya jenis bambu yang bisa dijadikan pilihan. Arang yang dihasilkan bisa menyamai mutu arang dari bahan yang luas digunakan seperti kayu bakau. Sedangkan arang aktif dari bambu ada yang mutunya lebih tinggi dibanding arang aktif dari kayu bakau dan tempurung kelapa.
Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan 4 jenis bambu, yakni bambu andong, ater, betung dan tali untuk pembuatan arang menunjukkan bahwa sifat arang dari bambu pada umumnya kurang lebih sama dengan sifat arang dari kayu bakau. Dari hasil pembuatan arang dengan proses penimbunan, yang dinilai terbaik ialah arang bambu ater. Dasar penilaiannya antara lain karena tertinggi dalam berat jenis (0,65) dan kandungan karbon tertambat (82,06%), terendah dalam kandungan zat mudah terbang (12,39%), nomor dua terendah dalam kadar air (6,66%), dan nomor dua terendah dalam kandungan abu (5,55%).
Sebagai bandingan, arang dari kayu bakau memiliki kandungan karbon tertambat 77,30%, zat mudah terbang 17,81%, kadar air 5,41%, dan kandungan abu 4,48%.
Terbaik kedua ialah arang bambu tali dengan berat jenis 0,40, karbon tertambat 80.35%, zat mudah terbang 14,01%, kadar air 7,08%, dan kandungan abu 5,64%.
Pada pengolahan arang secara destilasi kering, rendemen hasil masing-masing bambu tidak menunjukkan sifat yang berbeda nyata. Nilai rendemen rata-rata 36,05%, kandungan piroligneous 40,58%, dan tar 6,55%. Tetapi berat jenis berbeda nyata, yang tertinggi arang bambu ater (0,62) dan terendah arang bambu tali (0,25).
Tercatat pula adanya perbedaan hasil arang dari tiap bagian batang bambu, yakni bagian bawah, tengah dan atas. Arang dari bagian bawah batang memiliki berat jenis yang lebih besar dan rendemen arang selalu lebih tinggi. Berat jenis pada semua jenis bambu semakin ke atas semakin berkurang. Rendemen arang bagian bawah semua jenis tidak bergitu jauh berbeda. Rendemen arang pada bambu ater semakin ke atas semakin berkurang, yakni 43,46%, 37,48% dan 24,77%, sedangkan pada tiga jenis lainnya paling kecil di tengah.
Pada pembuatan arang aktif penelitian menunjukkan keunggulan arang aktif dari bambu andong dan betung, yakni bisa digolongkan pada kelompok arang aktif komersial karena daya absorpsi yang tinggi, yakni 1150 mg/g dan 1004 mg/g. Angka tersebut melebihi standar AWWS dan SII dan tingkat absorbs arang aktif dari kayu bakau dan tempurung kelapa.
Proses pembuatan arang aktif dari bambu, bahan dalam bentuk serpihan bambu yang kering dengan ukuran 0,2-0,5 cm diaktivasi dan dikarbonisasi. Pada proses aktivasi, serpihan direndam dalam larutan asam posfat selama 24 jam, lalu ditiriskan. Kemudian dipanaskan dalam retort pada suhu 900oC selama 3-4 jam. Selanjutnya diaktivasi lagi dengan uap panas selama 1 jam. Menggunakan cara ini, rendemen arang aktif dari bambu andong mencapai 15,7% dan bambu betung 16,6%.


