Update : Senin, 26/07/2010
 
Agri Penyuluh

Lima Pelajaran Sukses Thailand Menata Agroindustri Pedesaan

Ada apa dengan pembangunan pedesaan Thailand? Basis pembangunan ekonomi Thailand adalah sektor pertanian, sama dengan Indonesia. Membangun pedesaan berarti juga membangun sektor pertanian dalam arti luas yang antara lain juga identik dengan mengembangkan subsektor agroindustri.

Berbicara tentang program pengembangan agroindustri, banyak orang akan teringat pada Program OTOP (One Tambon One Product) yang terkenal itu. Agroindustri sendiri tidak berarti apa-apa jika tidak dikendalikan oleh kearifan lokal (local wisdom) yang mengakar, berkembang dan menjadi basis kekuatan masyarakat pedesaan.

Dengan segala keterbatasan yang dimiliki masyarakat pedesaan pada umumnya di kawasan Asia, penduduk Thailand rupanya mampu menata berbagai usaha mikro, kecil dan menengah dengan arif. Sumberdaya alam, manusia dan kapital yang relatif sangat terbatas dapat dimanfaatkan secara optimum untuk menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi, termasuk produk berbasis pertanian. Keadaan ini disadari semua pihak yang berkepentingan, termasuk pemerintah baik di tingkat pusat maupun di daerah.

Ada enam kelompok komoditas yang dikembangkan dalam Program OTOP ini, yaitu: kelompok makanan; tekstil, bahan kain dan pakaian; kerajinan tangan dan cindera mata; minuman; hiasan; dan tanaman obat/rempah. Produk agroindustri yang termasuk dalam kelompok makanan, minuman, dan tanaman obat/rempah telah mampu mengangkat kehidupan masyarakat pada tingkat yang lebih tinggi.

Kelompok masyarakat lain bahkan telah menikmati hasil pembangunan agroindustri ini karena dampak positif (multiplier effect) yang dibangkitkannya, seperti pengusaha, pedagang dan pengelola jasa. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kelompok masyarakat, kelompok pengusaha dan kelompok publik (pemerintah) mampu mengembangkan agroindustri melalui kearifan lokal secara cepat dan berkelanjutan?

Peran Pemangku Kepentingan
Dengan segala keterbatasan kekuatan setelah dilanda krisis ekonomi tahun 1997, Program OTOP berkembang sejak 2001 dengan cepat mengandalkan kearifan lokal dan menjadi wahana pembangunan yang sangat penting. Kelompok-kelompok masyarakat di pedesaan bersama kelompok pengusaha (pihak swasta) dan pemerintah saling mengisi dan secara sungguh-sungguh menjalankan program ini. Setiap individu dalam kelompok yang saling berinteraksi dan bekerjasama melaksanakan kegiatan bisnis ini telah berujung pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat secara lebih merata.

Komunikasi yang dijalin dengan baik antar semua pemangku kepentingan (stakeholders) telah melahirkan koordinasi dan kekuatan yang saling menguntungkan. Program OTOP lahir dari komitmen dan keinginan yang kuat untuk mengangkat masyarakat dari keterpurukan ekonomi, baik di kota maupun di desa. Perencanaan yang matang dirampungkan, keterlibatan dunia usaha ditingkatkan dan partisipasi kelompok masyarakat diperluas.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Arsip