
Satu usaha tiga keuntungan. Itulah nikmatnya jadi peternak sapi perah. Untuk pemilikan sapi perah 40 ekor bisa diperoleh keuntungan bersih Rp 6 juta rupiah dari hasil susunya. Keuntungan lainnya adalah…
Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Kementerian Pertanian, Zaenal Bachruddin mengatakan untuk mensejahterakan peternak sapi perah maka pengembangan susu sapi perah harus dilakukan dengan pendekatan peningkatan daya saing…
Dari Dekat Hotel Marriot ke KukusanMuhammad Amin adalah seorang peternak sapi perah yang berada di daerah Kukusan, Depok. Pada awalnya, keluarga besar Amin memang sudah memiliki peternakan sapi perah di…
Berprofesi sebagai peternak sapi perah nampaknya sangat dinikmati oleh Abdul Karim (32). Di lahan seluas 400 m² di kawasan Kukusan, Beji, Depok, bisa dijumpai peternakan sapi perah milik Abdul Karim…
Satu usaha tiga keuntungan. Itulah nikmatnya jadi peternak sapi perah. Untuk pemilikan sapi perah 40 ekor bisa diperoleh keuntungan bersih Rp 6 juta rupiah dari hasil susunya. Keuntungan lainnya adalah anakan sapi dan kotorannya.
Setiap pagi dan sore, sekitar 89 ekor sapi perah laktasi yang dikelola Bogor Agro Lestari (Bali) Farm berbaris seperti antri untuk menunggu giliran diperah susunya. Ir. Sujatmono Toni S pimpinan Bali Farm mengatakan ada kiat khusus untuk budidayanya agar usaha peternakan sapi perah efisien dan menguntungkan.
Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Kementerian Pertanian, Zaenal Bachruddin mengatakan untuk mensejahterakan peternak sapi perah maka pengembangan susu sapi perah harus dilakukan dengan pendekatan peningkatan daya saing dan hilirisasi industri.
“Dalam hal ini kita ambil contoh seperti yang dilakukan perusahaan Cimory yang sama sekali tidak punya peternakan namun mereka menjalin kerjasama dengan peternak dan mengolah susu menjadi produk berdaya saing yang bisa diterima masyarakat,” ujar Zaenal saat ditemui Sinar Tani di kantornya, Jakarta.
Dari Dekat Hotel Marriot ke Kukusan
Muhammad Amin adalah seorang peternak sapi perah yang berada di daerah Kukusan, Depok. Pada awalnya, keluarga besar Amin memang sudah memiliki peternakan sapi perah di daerah Kuningan, Jakarta tepatnya di dekat Hotel JW Marriot, tetapi hasil susunya hanya untuk dikonsumsi oleh keluarga besarnya.
Dengan modal lima ekor sapi perah, Amin mulai membuka peternakan sapi perah di Kukusan pada tahun 1990. Berkat kegigihannya, peternakannya sekarang sudah memiliki 40 ekor sapi perah dengan luas lahan peternakannya 300 m². Dengan bisnis peternakan sapi perahnya ini, pria kelahiran Jakarta 30 September 1964 dapat meraih keuntungan bersih hingga Rp. 6 juta per bulannya.
Berprofesi sebagai peternak sapi perah nampaknya sangat dinikmati oleh Abdul Karim (32).
Di lahan seluas 400 m² di kawasan Kukusan, Beji, Depok, bisa dijumpai peternakan sapi perah milik Abdul Karim atau yang biasa disapa Karim. Di peternakan yang berdiri sejak 2002 ini awalnya hanya berisi lima ekor sapi.
Kawasan wisata agro edukatif Istana Susu CIBUGARY (Cibubur Garden Dairy) merupakan suatu kawasan agro peternakan sapi perah bernuansa kebun. Taman serta saung-saung di atas kolam ikan arwana dengan pemandangan lepas bumi perkemahan Cibubur menjadi pemanis dari kawasan wisata ini.
Kawasan agrowisata ini didirikan Rachmat Hidayat Baghory (43 tahun). Rachmat mengatakan dirinya banyak belajar dari sang ayah yang dulunya kuli peternak sapi perah yang gigih. “Budidaya sapi perah adalah budaya masyarakat betawi dari jaman Hindia Belanda secara turun temurun,” tambahnya. Rachmat merupakan generasi ke empat meneruskan.
Menurut Ir. Winarno Tohir, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), kalau memungkinkan bank pertanian sangat bagus diterapkan di Indonesia, tetapi itu membutuhkan waktu yang cukup lama agar berkembang. Tetapi yang terpenting bukanlah bank pertaniannya, melainkan petani dapat dengan mudah mendapatkan kredit untuk usaha pertaniannya.
Saat ini, skim kredit yang berkembang adalah KUR (Kredit Usaha Rakyat) dan KKPE (Kredit Ketahanan Pangan dan Energi). Untuk KKPE, sudah disubsidi bunganya oleh pemerintah.
Manajemen Bank Agro memulai langkah menjadi bank pertanian dengan menekan cost of fund (biaya dana) sehingga bisa memberikan kredit murah untuk pertanian. Dukungan legislasi dan Bank Indonesia (BI) untuk beroperasinya bank khusus pertanian tidak lagi penting. Bisakah dan bagaimana harapan petani serta dukungan legislatif (DPR) dan Kementerian Pertanian?
Page 1 of 115







![]() | Hari Ini | 6031 |
![]() | Kemarin | 6719 |
![]() | Pekan Ini | 6031 |
![]() | Pekan Lalu | 59447 |
![]() | Bulan Ini | 38510 |
![]() | Bulan Lalu | 381448 |
![]() | Total | 2884114 |