
Sabun transparan termasuk barang mewah bernilai tinggi yang konsumennya terutama lapisan masyarakat ekonomi menengah ke atas. Namun, produksinya tidak mesti oleh industri berteknologi canggih dan bermodal kuat, bisa diproduksi oleh industri rumahan (home industry) bermodal kecil dengan teknologi sederhana.
Sari Intan Kailaku dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor dalam satu uraiannya menjelaskan potensi pasar sabun transparan cukup besar karena penggunaan sabun transparan makin meluas.
Langkah-langkah mewujudkan bumi yang lebih “hijau” kini terus bergulir dengan gempita. Tidak ketinggalan upaya menghadirkan beras “hijau” bagi konsumen dunia. Yang artinya orang akan bisa menikmati beras hasil cara produksi ramah lingkungan, berkelanjutan dan memenuhi kepentingan masyarakat. Rencana Aksi internasional untuk padi berkelanjutan itu diluncurkan di markas besar IRRI, 31 Nopember 2011.
Rencana aksi yang berjudul Sustainable Rice Platform itu diumumkan oleh para pendirinya, yakni Program Lingkungan PBB (UNEP), Lembaga Internasional Penelitian Padi (IRRI), Louis Dreyfus Commodities dan Kellogg Company. Peluncuran didukung dan dihadiri oleh para utusan pemerintah Indonesia, Thailand, Vietnam dan Myanmar. Juga didukung dan dihadiri utusan belasan perusahan nasional dan internasional maupun lembaga non pemerintah lainnya seperti CIRAD, CropLife Asia, DuPont Crop Protection, German International Cooperation (GIZ), Syngenta, Mars Food Europe dsb.
Konsep Pertanian Konservasi (Conservation Agriculture) muncul sebagai salah satu model korektif terhadap kelemahan-kelemahan pertanian konvensional yang dilahirkan Revolusi Hijau.
Konsep pertanian baru ini menjanjikan berbagai manfaat positif pada tingkat petani, lokal, regional dan global. Juga penghematan waktu, tenaga kerja, biaya produksi dsb.
Kehilangan pasca panen jagung, mutu biji dan kandungan aflatoksin yang memprihatinkan masih merupakan gejala umum di tingkat petani jagung. Hasil-hasil penelitian tahun 1990-an menunjukkan bahwa teknologi konvensional yang ada di petani perlu perbaikan. Hasil-hasil penelitian sekitar pertengahan dekade berikutnya kembali menunjukkan keadaan belum banyak berubah.
Konfirmasi demikian terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan I.U. Firmasyah, M. Aqil dan Suarni dari Balai Penelitian Serealia, Maros di sejumlah kabupaten di propinsi Gorontalo (2005), Kalimantan Selatan (2006) dan Sulawesi Selatan (2007). Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa pada ummnya berbagai hal mendasar menyangkut penanganan panen dan pascapanen belum diketahui atau dilaksanakan petani.
Trend pemberian pakan tambahan berupa mikroba (probiotik) dan senyawa asal tumbuhan (fitogenik) pada ternak unggas sedang melaju. Ada kaitan dengan pembatasan atau penghentian penggunaan antibiotik sebagai pelancar pertumbuhan unggas. Tetapi industri pengguna sering berada dalam posisi serba salah, sulit menentukan pilihan.
Studi tentang peta permasalahan terkini probiotik dan fitogenik bagi unggas telah dilakukan oleh T.J. Appelgate dkk, tim gabungan ilmuwan Purdue University , Amerika Serikat dan University of Natural Resources and Applied Life Sciences serta Biomin Research Center, Austria. Dalam makalah berjudul “Probiotics and Phytogenics for Poultry: Myth or Reallity?” dan disiarkan Poultry Science Association (PSA), mereka mencatat indutri unggas belakangan ini dibanjiri oleh ragam produk yang dimaksudkan sebagai pengganti fungsi antibiotik sebagai pelancar pertumbuhan (antibiotic growth-promoting/AGP). Termasuk di antaranya enzim, vitamin, ekstrak tanaman, produk eksklusi kompetitif (competitive exclusion/CE), probiotik, prebiotik, komponen ragi, asam-asam organik, asam lemak rantai pendek dan menengah, bakteriosin, bacteriophages, peptide antimikroba, dan sebagainya.
Ada satu masa ketika hewan jenis lokal atau asli (native animals) terdesak ke belakang oleh perkembangan industri peternakan modern. Teknologi dan pola peternakan intensifikasi modern menggunakan jenis-jenis hewan ternak modern seperti hasil pembiakan hibrida untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yang terus meningkat.
Namun, belakangan ini muncul semacam gerakan di negara berkembang maupun negara maju untuk mengembangkan peternakan ataupun pembiakan hewan-hewan asli.
Penemuan “terra preta” (tanah hitam) yang tetap subur selama ratusan bahkan diduga ribuan tahun di kawasan Amazon, Amerika Selatan telah menyulut euphoria arang hayati (biocharcoal disingkat biochar). Namun kegirangan meluap tersebut kini sudah mereda, beralih pada kesibukan global riset lapangan tentang manfaat biochar, khususnya untuk meningkatkan kesuburan tanah dan pemeliharaan lingkungan.
Biochar yang memberi warna hitam pada terra preta menjadi topik menarik dalam berbagai konperensi internasional sejak penyelenggaraan Konperensi Biochar pertama di Inggeris tahun 2007. Namun ternyata, terra preta yang subur di Amazon tidak sesederhana yang terlihat secara kasat mata.
Page 1 of 32







![]() | Hari Ini | 5947 |
![]() | Kemarin | 6719 |
![]() | Pekan Ini | 5947 |
![]() | Pekan Lalu | 59447 |
![]() | Bulan Ini | 38426 |
![]() | Bulan Lalu | 381448 |
![]() | Total | 2884030 |