
Tanam Jati Berbuah Kedelai
Dua masalah satu solusi! Fakta ini yang bisa kita temukan kalau kita sempat jalan-jalan mulai dari Solo, Sragen, Mantingan hingga ke Ngawi. Bentangan kawasan hutan jati menghiasi pandangan di sepanjang jalur itu, dan pastinya di benak kita langsung terukir betapa banyak penghasilan yang bisa diraih dari kawasan ‘emas hijau’ tersebut.
Tapi sebelum kita ‘menelisik’ lebih dalam, kita tanya dulu milik siapa kawasan jati itu? Tanya punya tanya ternyata sebagian besar kawasan jati ini milik Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, sebuah perusahaan plat merah (BUMN) yang ditugasi untuk mengelola hutan-hutan di negeri ini. Di Jawa Timur (Jatim) ada 1.357.206,30 hektar kawasan hutan. Dari luas tersebut, 819.850 ha merupakan hutan produksi. Jutaan meter kubik kayu jati yang diproduksi.
Beberapa hari yang lalu (3/01), dalam sebuah kesempatan Menteri Pertanian RI menegaskan bahwa pemerintah Indonesia pada tahun 2012 ini hanya akan mengimpor daging sapi sebanyak 34.000 ton saja, atau hanya 37,7 persen dari total impor daging sapi tahun lalu (90.000 ton) dan sekitar 28,3 persen dari nilai volume impor daging sapi dua tahun sebelumnya (120.000 ton).
Artinya bahwa telah terjadi penurunan yang signifikan dalam pengadaan daging sapi impor, sehingga dapat dibaca bahwa secara nasional telah terjadi peningkatan produksi daging sapi domestik yang cukup pesat di Indonesia.
Peringatan Kemtan 5 Januari 1905-2012
Jamil Musanif *)
Tanggal 5 Januari 2012 ini kita memperingati 107 tahun Kementerian Pertanian. Sepuluh tahun lalu ketika memperingati 100 tahun jawatan pertanian ada isu menarik ketika itu, ialah bahwa kesejahteraan petani tak beranjak secara nyata. Konon “katanya” pasalnya ialah karena ternyata visi Petani berbeda dengan visi Pemerintah. Petani ingin sejahtera, sedang Pemerintah ingin selamat dengan bersembunyi di balik rerimbunan pohon yang disirami dengan keringat dan air mata Petani.
Syukur alhamdulillah pada Kabinet Indonesia Bersatu yang kedua ini secara eksplisit tercantum Peningkatan Kesejahteraan Petani, sebagai salah satu target atau kriteria sukses Pembangunan Pertanian. Tetapi, tampaknya tercapainya kesejahteraan petani itu masih saja hanya sebatas asumsi.
Oleh: Sjamsoe’oed Sadjad
Petani yang bisa menghasilkan sendiri benih untuk pertanamannya, kalau menampakkan keunggulan, sejak dulu pun memang diakui oleh masyarakat tani di lingkungannya sebagai petani andalan. Apalagi kalau benih unggul itu bisa disebarkan di kalangannya, nama petani itu menjadi sebutan pada benih yang dihasilkan.
Oleh IR. SOEMITRO ARINTADISASTRA, Ph.D, M.Ed
1. Pengembangan peternakan menggunakan strategi perguliran
Sejak tahun 2009 Pemerintah/Kementerian Pertanian gencar menggerakkan pertumbuhan peternakan di Indonesia. Berbagai strategi diterapkan mulai dari menggerakkan inseminasi buatan, memperkuat kesehatan hewan, bantuan bergulir, bantuan langsung, menggerakkan penyediaan pakan.
Salah satu program yang sudah lama dilaksanakan sejak jaman Belanda adalah systim bantuan bergulir disebut “Sumba Kontrak” dan sudah lama hilang lenyap dari bumi Indonesia.
Oleh : Drs. Edward, SE.MM - Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Kabupaten Manggarai Barat
Pelbagai upaya pemerintah dalam bentuk program telah diluncurkan, dalam rangka meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat serta penurunan angka kemiskinan. Kesadaran pemerintah terbangun dan dibangun oleh kenyataan empirik terhadap angka kemiskinan, yang relatif masih tinggi dan tersebar di sebagian besar pelosok pedesaan negeri ini. Salah satunya adalah revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan sebagai upaya mengatasi pengangguran, peningkatan daya saing dan menjaga kelestarian sumber daya pertanian, perikanan dan kehutanan.
Oleh: Ir. Laurensius Sihaloho, MBA
Awal bulan November 2011 Tim Reformasi Birokrasi Nasional mengumumkan bahwa berdasarkan hasil evaluasi tim Kementerian Pertanian telah melaksanakan reformasi. Berita gembira tersebut tentu saja disambut gembira karena hal ini terkait dengan perolehan remunerasi atau tunjangan kinerja. Tentu saja bukan maksudnya bahwa reformasi birokrasi itu identik dengan remunerasi. Remunerasi hanyalah salah satu alat memotivasi setiap aparatur untuk memperbaiki dan meningkatkan akuntabel, transparansi, efisiensi, efektivitas, profesionalisme dan kredibilitas, disiplin, serta taat aturan perundangan yang berlaku.
Page 1 of 27







![]() | Hari Ini | 6252 |
![]() | Kemarin | 6719 |
![]() | Pekan Ini | 6252 |
![]() | Pekan Lalu | 59447 |
![]() | Bulan Ini | 38731 |
![]() | Bulan Lalu | 381448 |
![]() | Total | 2884335 |